Atap Bali, Gunung Agung dengan ketinggian 3.142mdpl merupakan salah satu destinasi pendakian di luar pulau Jawa yang dapat dijangkau ketika long weekend tanpa cuti tambahan. Sejenak melepas penat dalam hiruk pikuk rutinitas dunia, sambil mengisi ulang energi dalam diri sekaligus menikmati pesona alam. Gunung Agung sendiri termasuk salah satu gunung tersakral di pulau Bali, dimana pada saat perayaan tertentu tidak diperbolehkan ada pendakian. Berdasarkan informasi dari guide pendakian Gunung Agung, terdapat beberapa pantangan yang agak berbeda dari gunung pada umumnya, seperti tidak diperkenankan membawa daging sapi, tidak diperkenankan menggunakan perhiasan emas dan bagi perempuan tidak dalam keadaan datang bulan.
Pendakian dengan durasi 2 hari 1 malam ini, dimulai dari Basecamp via Taman Edelweis yang berada di Kabupaten Karangasem. Disini juga tersedia opsi naik ojek hingga titik pendakian pertama, sebut saja Pos Ojek. Sekedar pendapat pribadi, memilih naik ojek lumayan worth it karena jaraknya cukup jauh dan dapat menghemat tenaga. Kami mulai berjalan kaki menuju Pos Bayangan I, Pos I, Pos Bayangan II dan Pos II dalam waktu 3,5 jam.
Kondisi jalur berupa jalan setapak dengan sebelah kanan kiri rimbun pepohonan. Cuaca berubah dari cerah menjadi hujan gerimis ketika kami sampai di Pos II. Sambil menunggu agak reda, kami mengisi waktu luang sambil makan camilan dan berbincang dengan teman serombongan. Setelah cukup istirahat, kami menggunakan jas hujan untuk melanjutkan perjalanan ke Pos III (camp ground) selama 2,5 jam. Treknya konsisten menanjak dan minim bonus landai, yang membuat kami sering beristirahat.
Sewaktu istirahat di jalur, kami berpapasan lagi dengan 2 ekor anjing berwarna putih yang sedang dalam perjalanan turun, dimana sebelumnya kami bertemu mereka di Pos I. Kencang juga ya kedua anjing tersebut jalannya, eh larinya maksudnya. Camp ground di Pos III ini, merupakan spot sunset, namun kami mendapatkan pemandangan gumpalan awan yang semakin lama semakin mengarah ke mendung. Kami menikmati kesenduan suasana sore itu, ditemani dengan nasi opor ayam dan celotehan teman-teman serombongan.
Kami bangun untuk persiapan summit yang dijadwalkan jam 3 pagi. Diluar ekspektasi, baru berjalan naik sedikit dari camp ground lansung disambut dengan trek bebatuan yang menanjak dan cukup curam hingga melewati Simpang Jodoh. Bahkan mungkin dapat dikatakan bukan berjalan ya, tapi memanjat batu demi batu. Simpang Jodoh merupakan batas vegetasi terakhir, dimana kondisi jalur selanjutnya sudah tidak ada pepohonan lagi. Nafas engap cukup terobati dengan pemandangan gemerlap lampu pulau Bali dari ketinggian.
Semburat kombinasi warna jingga dan ungu muncul dari balik Gunung Agung. Sunrise pagi itu kami dapatkan di Puncak 1. Setelah mengabadikan momen, kami lanjut ke Puncak 2 dan Puncak Agung dengan melewati jalur setapak dimana kanan kirinya adalah jurang, sehingga harus sangat berhati-hati dalam melangkahkan kaki. Kami sampai di Puncak Agung sekitar jam 5.30 atau total perjalanan summit kurang lebih 3,5 jam dalam kondisi yang cerah berangin. Uniknya gunung di Bali, terutama di Gunung Agung ini, ada beberapa tempat yang dipenuhi dengan sesajen dan dupa seperti di Puncak Agung, Puncak 2 dan Pos II. Kami menikmati puncak yang berkawah sambil merekam sekeliling dengan kedua mata lebar-lebar, sangat dimanjakan dengan lanskap Bali dari ketinggian yang dikelilingi oleh laut. Dari kejauhan tampak Gunung Rinjani berdampingan dengan matahari yang semakin meninggi dan dari arah sebaliknya, tampak pula Gunung Batur, Gunung Abang dan Bukit Trunyan.
Setengah jam di Puncak Agung, kami memutuskan untuk segera turun dikarenakan kondisi angin yang semakin kencang. Perjalanan turun ini sekaligus sebagai momen napak tilas perjalanan dini hari tadi, yang akhirnya dapat kami lihat dalam kondisi terang dan seketika langsung bergumam sendiri kurang lebih seperti ini:
‘oh, semalam jalurnya semiring ini ya?’
‘ini harus lewat bebatuan yang mana ya? Kalau terlalu jauh ke kanan maupun kiri, langsung disapa jurang’ dan banyak lagi.
Sampai kembali di Pos III atau camp ground sekitar jam 10, dilanjutkan dengan packing dan makan siang. Kemudian jam 12 siang, langit mulai berawan mendung, kami turun dengan kondisi hujan gerimis. Beberapa kali menunggu di Pos sambil berharap hujannya mereda, tapi ternyata alam belum merestui. Teman lain dari hujan adalah tanah yang becek dan licin, yang menyebabkan kami banyak kepleset disana disini. Jatuh bangun menjadi hal biasa, apalagi dengan kondisi jalur yang tidak lutut friendly ini. Kalau saja, si kaki bisa berkomentar, mungkin kurang lebih akan protes seperti ini, ‘dibilang lebih enak di rumah, kenapa repot naik gunung(?)
Satu kesan terakhir buat Gunung Agung: cukup sekali, tidak untuk diulang namun terkenang selamanya, matur suksma Bali.
Tentang Penulis:

Seorang yang senang menghabiskan waktu liburnya dengan menikmati alam.
Tentang Program Tulisan Eigerian:
Cerita Eigerian adalah salah satu rubrik dalam program Tulisan Eigerian. Program Tulisan Eigerian adalah program yang membuka kesempatan bagi para penulis dan petualang untuk menjadi kontributor di Blog EIGER. Kontributor dapat berbagi karya, cerita, tips, ataupun review produk EIGER. Program ini terbuka untuk umum dan memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh para kontributor. Yuk salurkan bakat dan bagikan semangat petualangan melalui tulisan-tulisan yang bermakna sekarang juga, ada reward bagi kontributor yang tulisannya ditayangkan! Cek syarat dan katentuannya untuk menjadi kontributor Blog EIGER di sini atau langsung kirim artikelmu melalui form ini.


