Malam tahun baru yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya dihabiskan dengan tawa dan obrolan hangat, kali ini digantikan oleh kesunyian alam yang hanya sesekali ditemani suara angin dan gemerisik daun. Di sini, aku tidak hanya merayakan pergantian tahun, tetapi juga merayakan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Saya seorang karyawan swasta di Jakarta yang hanya memiliki waktu libur pada hari Minggu. Meskipun hanya memiliki satu hari libur dalam seminggu, hal ini tidak menghalangi saya untuk terus mencoba hal-hal baru. Sejak tahun 2023, saya mulai memiliki hobi mendaki dan terus melakukannya hingga sekarang. Lalu, bagaimana caranya saya bisa berpetualang meski hanya memiliki satu hari libur?
Pertama, saya bisa memanfaatkan hak cuti. Kedua, saya mengambil kesempatan ketika tanggal merah jatuh pada hari Sabtu atau Senin. Saya juga sangat bersyukur karena tahun baru 2024 bertepatan dengan hari Senin (01/01/2024), sehingga saya memiliki waktu dua hari untuk mendaki. Tanpa berpikir panjang, saya pun memutuskan untuk mendaki Gunung Lawu melalui jalur Cetho.
“Ambil kesempatan ini, atau biarkan ia berlalu begitu saja tanpa jejak.”
31 Desember 2024, Pukul 08.00 Basecamp Lawu Via Cetho
Sebelum memulai pendakian, seperti biasa, saya melakukan packing ulang pada carrier Eiger Hikeover hijau 45L. Karena saya mendaki di tengah musim hujan, yang memiliki risiko cukup tinggi, perlengkapan yang tepat sangat diperlukan. Beberapa perlengkapan yang saya bawa antara lain jas hujan, sepatu dengan daya cengkram yang baik, trekking pole, serta lapisan ekstra untuk melindungi barang bawaan dalam carrier.
Pendakian dimulai pukul 09.00 dengan total rombongan sebanyak 12 orang, terdiri dari empat perempuan dan delapan laki-laki. Perjalanan diawali dengan trek aspal menanjak di area wisata candi. Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami tiba di gerbang bertuliskan ‘Selamat Mendaki Gunung Lawu via Cetho’, yang menjadi salah satu spot foto favorit para pendaki sebelum memulai perjalanan yang sesungguhnya. Sambil menunggu giliran foto, kami semua melakukan briefing dan berdoa agar perjalanan kami lancar, baik saat mendaki maupun saat turun nanti.
Pukul 09.40, kami melanjutkan pendakian. Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami tiba di Candi Kethek. Candi Kethek dan Candi Cetho terletak di desa yang sama dan keduanya dibangun pada akhir masa kekuasaan Majapahit. Nama ‘Kethek’ berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘monyet’. Ada yang mengatakan nama ini muncul karena banyaknya monyet yang sering terlihat di sekitar area candi, atau karena relief atau bentuk tertentu yang mengingatkan pada monyet. Hal ini menjadi salah satu ciri khas dari situs ini, memberikan sentuhan keunikan pada Candi Kethek.
Setelah berjalan sekitar 5 menit, kami melihat puluhan tangga yang diyakini sebagai jalanan sakral. Tentu saja, kami tidak bisa melewatinya begitu saja. Sebelum naik, kami diminta untuk mengenakan kain selendang seperti syal. Setelah melewati jalanan sakral, terdapat kotak yang disediakan untuk meletakkan kembali kain selendang tersebut.
Perjalanan sesungguhnya dimulai dengan trek yang menanjak dan licin. Meskipun tidak hujan, menurut informasi dari warga lokal, kemarin terjadi hujan badai hingga sore. Akibatnya, trek hari ini sangat licin. Inilah salah satu risiko mendaki di musim hujan.
Pukul 10.50, kami tiba di Pos 1 dan beristirahat selama lima menit, sejenak duduk untuk meluruskan kaki. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 pada pukul 10.55. Perjalanan menuju pos 2 terbilang santai, meskipun licin. Lalu, kami tiba di Pos 2 pukul 12.00 dan beristirahat selama kurang lebih dua puluh menit sambil menunggu tim lain makan siang.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 pada pukul 12.20, dengan trek yang semakin menanjak dan panjang, namun masih dapat diterima oleh kaki. Selama perjalanan, kami sesekali berhenti selama satu menit untuk menarik napas dan mengembalikan energi. Kami tiba di Pos 3 pada pukul 13.40, dan suasana disana sangat ramai dengan banyak pendaki yang sedang beristirahat. Tidak perlu khawatir kehabisan logistik, karena di Pos 3 terdapat warung dan toilet yang sangat dicari, terutama oleh para wanita.
Akhirnya Tiba di Pos 3 Gunung Lawu
Di Pos 3, kami menyempatkan tidur siang selama 30 menit. Untuk pertama kalinya, aku bisa tidur nyenyak di pos gunung yang ramai, mungkin karena rasa kelelahan yang luar biasa. Kami bersiap kembali menuju Pos 4 pada pukul 14.30, dengan perjalanan yang semakin menantang. Semakin jauh kami berjalan, semakin sering kami berhenti untuk menarik napas.
Kami tiba di Pos 4 pukul 16.15, dan hanya beristirahat selama lima menit. Kami mengejar waktu karena hari semakin sore, dan perjalanan masih panjang. Namun, aku dan satu teman sejenak menikmati matahari terbenam sambil rebahan. Semakin lama, semakin gelap, dan tak terasa waktu hampir maghrib.
Akhirnya, pukul 18.30 kami tiba di area camp dengan kondisi tubuh yang sangat lelah. Sebelum beristirahat, kami selalu membiasakan diri untuk berganti pakaian bersih dan mempersiapkan perlengkapan untuk summit keesokan pagi.
31 Desember 2024, Malam Tahun Baru
Ketika sebagian orang mungkin merayakan malam tahun baru dengan pesta makanan dan kembang api, aku memilih cara yang berbeda. Bukan meja penuh hidangan atau suara kembang api yang menemani malamku, melainkan udara dingin dan kesunyian alam yang hanya bisa ditemukan di ketinggian.
Pukul 21.30, aku sudah terlelap tidur, mengistirahatkan tubuh untuk mengumpulkan energi dan mempersiapkan diri menghadapi pendakian menuju puncak, untuk bertemu dengan Mbok Yem. Bagi para pendaki, nama Mbok Yem tentu sudah tidak asing lagi. Mbok Yem adalah pemilik warung legendaris di puncak Hargo Dalem Gunung Lawu yang sudah berdiri sejak tahun 1980. Beliau hanya turun sekali setahun, yaitu ketika mendekati hari raya Idul Fitri, dan tidak turun dengan berjalan sendiri, melainkan diangkat menggunakan tandu oleh porter.
01 Januari 2024, Pukul 03:00 Summit Attack
Saat terbangun, aku mendengar suara ramai para pendaki yang hendak memulai summit. Spontan aku terbangun dan bersiap. Bagi aku, waktu summit adalah bagian yang paling berat saat mendaki. Aku harus menghadapi dinginnya malam yang membuat saluran pernapasan terasa lebih sempit. Aku memang termasuk orang yang tidak tahan dengan udara dingin. Untuk mengatasinya, aku selalu menggunakan hand warmer di tangan dan mengenakan jaket double-layer dari Eiger.
Menurutku, perjalanan menuju puncak Gunung Lawu terasa lebih landai dibandingkan dengan gunung lainnya. Namun, gunung ini terkenal dengan cerita-cerita mistisnya, terutama di area Pasar Dieng. Apakah kalian pernah mendengar tentang Pasar Dieng di Gunung Lawu?
Pasar Dieng
Pasar Dieng di Gunung Lawu, juga dikenal sebagai Pasar Setan. Ini adalah sebuah tempat legendaris yang memiliki nuansa mistis. Pasar ini hanya dapat dilihat atau didengar oleh mereka yang memiliki “keberuntungan” tertentu. Banyak pendaki yang melaporkan mendengar suara hiruk-pikuk seperti pasar tradisional, meskipun ketika mereka mencari sumbernya, tidak ada yang tampak.
Jangan lupa, saat kita berada di alam, untuk selalu jaga sikap dengan penuh kesadaran. Hindari perilaku yang dapat mengganggu kehidupan di alam, seperti merusak tanaman, atau membuat kebisingan yang tidak perlu. Ingatlah, jika kita ingin dihormati dan tidak diganggu, maka kita juga harus menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan dan segala isinya.
Sepanjang perjalanan menuju puncak, aku tidak bisa melihat dengan jelas posisi tepatnya Pasar Dieng. Dalam kondisi gelap, letak dan bentuk area Pasar Dieng sulit dikenali. Aku hanya fokus berjalan ke depan bersama rombongan.
Puncak Lawu
Gunung Lawu memiliki tiga puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 3265 Mdpl.
Tiba di Puncak Hargo Dumilah pukul 06.30, kondisi ramai dengan pendaki yang sedang mengelilingi tugu ikon Puncak Lawu. Aku melihat sekitar 50 orang memilih merayakan tahun baru di puncak gunung. Saat kebanyakan orang sedang terlelap setelah perayaan tahun baru yang meriah, kami semua memilih jalur yang berbeda. Menerjang gelap dan dinginnya malam, perlahan menapaki jalur menuju Puncak Lawu.
Pendakian di Tahun Baru: Keindahan yang Tak Terduga
Tahun baru biasanya identik dengan musim hujan, waktu yang dianggap kurang cocok untuk mendaki. Saat aku mengajak beberapa teman untuk mendaki, mereka dengan cepat menolak—alasan mereka sederhana: musim hujan. Namun, aku tetap memutuskan untuk melangkah, dan kenyataannya sungguh berbeda dari yang mereka bayangkan.
Di puncak Lawu, aku disambut oleh langit yang begitu indah, seolah menyajikan pertunjukan spesial untuk mengawali tahun. Keindahan puncaknya begitu memukau, membuktikan bahwa kadang-kadang keberanian untuk melawan keraguan membawa kita pada pengalaman yang luar biasa. Alam selalu punya cara untuk menunjukkan keajaibannya, bahkan di musim yang tak terduga.
Dari sini, aku belajar bahwa mendaki gunung tidak harus menunggu pergantian musim. Pendakian bukan hanya tentang waktu yang tepat, melainkan tentang keyakinan yang kuat dan keberanian untuk melangkah. Ketika kita memutuskan untuk mendaki, alam akan menjadi guru terbaik. Setiap langkah mendaki membawa pelajaran baru—dari suara angin di antara pepohonan hingga ketenangan puncak yang mengajarkan kita arti syukur dan harmoni.
Camp Menanti: Cerita dan Keindahan Perjalanan Pulang
Perjalanan kembali menuju camp dimulai pukul 08:30. Kami sempat mampir sejenak ke Warung Mbok Yem untuk mencicipi nasi pecel dan bertemu dengan Temon, monyet peliharaan Mbok Yem yang menggemaskan. Cukup lama aku menikmati keindahan alam di sebelah Warung Mbok Yem, sambil menahan dinginnya angin yang menusuk.
Pukul 09.00, aku melanjutkan perjalanan pulang dan akhirnya bisa melihat letak Pasar Dieng dengan jelas. Ketika melihatnya di siang hari, keindahannya sungguh memukau, jauh dari kesan seram seperti yang sering diceritakan orang. Pasar Dieng tampak seperti taman bermain yang dihiasi berbagai macam tanaman. Namun, ada area pembatas yang membuat pengunjung tidak bisa sembarangan masuk. Aku pun hanya mengambil foto kenangan di depan pembatas.
Keindahan tak terduga berikutnya muncul saat aku berjalan di tengah kabut tebal. Namun, 30 detik kemudian, kabut itu perlahan menjauh, memperlihatkan sabana yang sangat indah. Jika kabut tidak pergi, mungkin aku tidak akan tahu bahwa di sebelah kanan terbentang sabana yang begitu luas dan memukau.

Dari beberapa pendakianku, aku jatuh cinta pada sabana di Gunung Lawu yang terasa begitu menenangkan. Rasanya ingin duduk lebih lama disini, menikmati momen untuk menenangkan pikiran sejenak.
Setelah setengah jam menikmati keindahan sabana, aku melanjutkan perjalanan pulang, menyusuri sabana yang terbentang luas. Keindahannya seolah tiada habisnya. Meskipun menyimpan sejuta misteri, Gunung Lawu menawarkan pesona yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Setibanya di area camp, aku terkejut karena sekelilingnya juga sangat indah. Wah, aku benar-benar terpesona, mata seolah tak bisa beralih ke yang lain. Rasanya sangat ingin bermalam disini sekali lagi. Semua keletihanku terbayar tuntas dengan keindahan alam Gunung Lawu.
Basecamp Menyapa, Gunung Lawu Menitipkan Cerita
Perjalanan pulang dimulai pukul 12.00 dan berakhir di basecamp pada pukul 16.00. Alhamdulillah, kami tiba di basecamp dengan selamat. Sambil menunggu peserta lain yang masih di belakang, saya menikmati suasana desa tanpa sinyal dengan semangkuk mie rebus hangat. Melihat aktivitas warga lokal di sore hari benar-benar menjadi momen yang menyenangkan, sebuah pelarian sederhana sebelum esok kembali menghadapi rutinitas di depan layar komputer.
Pulang dengan Kenangan Indah: Terima Kasih, Gunung Lawu
Kami semua tiba kembali di Jakarta pukul 06.45. Aku langsung bergegas pulang ke rumah karena pukul 08.00 sudah harus kembali menjadi budak korporat. Kalau ada yang bertanya, ‘Emang nggak capek, Kak, langsung kerja?’ jawabannya, tidak sama sekali. Aku sangat menikmatinya. Capek memang sudah jadi bagian dari hobiku. Itu adalah risiko yang aku pilih, jadi tidak ada alasan untuk mengeluh.
Pendakian Gunung Lawu sebelumnya tidak masuk dalam wishlist ku untuk tahun 2024 dan keputusan ini sangatlah spontan, karena target awal ku adalah Gunung Ciremai atau Gunung Sumbing. Namun, takdir membawaku ke Gunung Lawu. Siapa sangka, gunung ini memberikan pengalaman terbaik, momen yang akan terus hidup dalam ingatan, serta sebuah cerita yang paling antusias aku ceritakan kepada semua orang selamanya.
Inilah cerita tentang sebuah perjalanan ke gunung di awal tahun 2024, pengalaman sejenak yang menjadi abadi—bukan hanya di kenangan, tetapi juga dalam setiap detak rasa syukur.
“Jangan tunggu waktu yang ideal, karena kadang momen terbaik datang saat kita berani melangkah di tengah ketidaksempurnaan.”
Tentang Penulis:

Hildawati Septiani, lahir di Lampung pada 23 September 1998, dan saat ini berdomisili di Jakarta. Saya bekerja sebagai karyawan swasta dan memiliki hobi mendaki gunung serta menulis tentang pengalaman petualangan. Hobi mendaki dimulai pada tahun 2023 dan terus berlanjut hingga sekarang. Saya selalu berani bepergian sendirian, namun pulang dengan teman-teman baru yang ditemui di sepanjang perjalanan. Ikuti petualangan saya lainnya di akun Instagram @hildawatiseptiiani dan tiktok @hildaseptiani.
Tentang Program Tulisan Eigerian:
Cerita Eigerian adalah salah satu rubrik dalam program Tulisan Eigerian. Program Tulisan Eigerian adalah program yang membuka kesempatan bagi para penulis dan petualang untuk menjadi kontributor di Blog EIGER. Kontributor dapat berbagi karya, cerita, tips, ataupun review produk EIGER. Program ini terbuka untuk umum dan memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh para kontributor. Yuk salurkan bakat dan bagikan semangat petualangan melalui tulisan-tulisan yang bermakna sekarang juga, ada reward bagi kontributor yang tulisannya ditayangkan! Cek syarat dan katentuannya untuk menjadi kontributor Blog EIGER di sini atau langsung kirim artikelmu melalui form ini.



Wah keren banget pengalamanya jadi pengen ke Lawu deh