“Akan selalu ada pertama (kali) dalam banyak hal di hidup ini” — sedikit intermezo tentang kutipan dari buku NKCTHI yang langsung terlintas di benak saya saat mencari inspirasi untuk memulai tulisan ini. Rasanya begitu relevan, terutama ketika mengenang pengalaman pertama saya mendaki gunung papandayan dan camping.
Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?
18 Oktober 2024. Waktu menunjukkan sekitar pukul 15:30, notifikasi dari aplikasi Explorer.id, platform travel berbasis online yang menawarkan berbagai paket perjalanan wisata open trip maupun private trip, muncul di lock screen handphone dengan bunyi ‘Trip PASTI BERANGKAT, Papandayan 19 Oktober 2024’.
Tanpa banyak berpikir, dengan keyakinan yang nyaris spontan, saya memutuskan untuk check-out dan menyelesaikan pembayaran. Ada harapan kecil bahwa teman-teman mungkin akan bergabung, namun saya tahu betul, keputusan ini terlalu mendadak untuk mengandalkan mereka. Saya memantapkan hati — meski seorang diri, langkah ini akan tetap saya ambil, membawa rasa ragu dan antusiasme yang bercampur menjadi satu.
Mendaki gunung telah lama menjadi bagian dari daftar keinginan saya, tetapi selalu tertunda karena berbagai alasan. Meski trekking sudah pernah saya rasakan, hasrat untuk menantang diri dalam perjalanan yang lebih besar tetap mengendap di hati. Maka, keputusan dadakan ini terasa seperti langkah nyata menuju impian itu, meski hanya dengan persiapan 12 jam yang sangat minimal.
Hingga keesokan harinya, saya terbangun pukul tiga dini hari dengan mata sembab, seolah tubuh ini masih merindukan sisa energi yang belum sepenuhnya terkumpul. Namun, ada semangat yang perlahan menyala di balik rasa lelah itu — antusiasme yang hangat dan menggeliat, membayangkan petualangan yang menanti.
Pukul empat pagi, saya tiba di meeting point di seberang TangCity Mall. Langit masih gelap, jalanan sepi, dan aroma pagi yang dingin menyelimuti suasana. Saya berdiri di sana, tanpa banyak ekspektasi, hanya membawa harapan sederhana: semoga perjalanan ini menyisakan sesuatu yang tak terlupakan.
Di perjalanan, saya bertemu beragam orang: tiga sahabat sebaya, pasangan suami-istri paruh baya yang hangat, dan seorang dengan usia pekerja profesional.
Perjalanan Dimulai: Belajar Tentang Kebersamaan
Sesampai di basecamp, kami disambut oleh udara gunung yang sejuk, memberikan rasa lega setelah perjalanan panjang. Kami segera meluangkan waktu untuk istirahat, menikmati makanan yang telah disiapkan oleh tim, sambil berbincang santai untuk mencairkan suasana yang masih hangat dalam tahap perkenalan awal.
Dari kaki gunung, kami bisa melihat Papandayan dengan jelas, terlihat begitu dekat seakan menunggu untuk segera kami daki. Setelah briefing singkat dari local tour leader mengenai rute dan persiapan, ekspektasi kami mulai terbentuk —jalur pendakian yang akan dilalui, tantangan fisik yang menanti, dan pemandangan indah yang akan dijumpai.
Memulai pendakian, langkah pertama terasa begitu ringan, diiringi tawa kecil yang kami lemparkan bersama dua tour leader jenaka yang selalu tahu cara menghidupkan suasana. Canda tawa membuat perjalanan terasa lebih ringan, seolah beban di pundak kami ikut menghilang. Tak jarang, kami berhenti sejenak, mengeluarkan kamera ponsel untuk menangkap keindahan alam yang bahkan sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Di sinilah saya belajar arti kebersamaan — tentang bagaimana saling menguatkan dan menghargai satu sama lain. Saya dan tiga sekawan lain, yang masih muda dan penuh semangat, mulai menyadari bahwa meski energi kami lebih banyak, ada mereka yang lebih berumur di antara kami. Kami belajar untuk lebih sabar, menghargai mereka yang mungkin lebih cepat merasa lelah. Saya mulai mengerti bahwa pendakian ini bukan hanya soal kecepatan, tapi tentang kebersamaan, tentang saling menghargai, dan bagaimana perjalanan ini menjadi lebih berarti ketika dijalani bersama.
Melangkah Menyusuri Pesona Alam Gunung Papandayan
Pendakian yang seharusnya hanya memakan waktu tiga jam, akhirnya ditempuh dalam empat jam penuh cerita dan keindahan. Tidak ada yang terburu-buru, tidak ada yang merasa harus mendahului. Kami menikmati setiap langkah, membiarkan kaki kami berjalan seirama dengan alam hingga di ketinggian 2.665 mdpl. Jalur pendakiannya sebenarnya tidak terlalu sulit, cukup ramah untuk pendaki pemula seperti saya. Tapi, jangan salah, pemandangannya tetap luar biasa — setiap sudutnya menawarkan keajaiban yang sulit dilupakan.
Perjalanan kami dimulai dengan melewati kawah Papandayan, sebuah lanskap yang begitu memukau, meski aromanya cukup menyengat. Lapisan belerang membentang luas seperti kanvas kuning alami, dihiasi oleh aliran sungai belerang yang perlahan mengalir di antara bebatuan. Tebing-tebing tinggi mengelilingi kawah ini, memberikan suasana megah sekaligus tenang.
Kemudian, kami melewati hutan mati, dengan pohon-pohon hitam yang berdiri kaku di tengah kabut menciptakan pemandangan yang penuh pesona sekaligus menggetarkan. Meski sekilas tampak suram, ada keindahan tersembunyi dalam kesederhanaannya, sebuah pengingat bahwa alam selalu memiliki cara untuk bercerita, bahkan melalui keruntuhannya.
Setelah empat jam mendaki, kami akhirnya tiba di camping ground. Tenda-tenda sudah berdiri, siap menjadi tempat peristirahatan setelah perjalanan panjang ini. Udara dingin mulai menyapa, tapi kehangatan kebersamaan membuat semuanya terasa nyaman. Kami saling berbagi senyuman, seakan berkata, “Kita berhasil.”
Tak hanya sampai situ, kami melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun, yang tak jauh dari camping ground, hamparan padang edelweis yang begitu luas dan indah. Bunga-bunga edelweis yang disebut “bunga abadi” ini melambai pelan dihembus angin, seperti menyapa kami dengan keramahan alam. Rasanya seperti berada di dunia lain, begitu damai dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Malam Yang Indah dan Tak Terlupakan di Gunung Papandayan
Malam itu, kami berkumpul di sebuah warung yang berdiri kokoh di atas ketinggian, berjejer bersama beberapa warung lainnya, yang menjadi oasis kecil di tengah dinginnya udara gunung, tempat kami menghangatkan badan dengan perapian yang menyala hangat.
Makan malam sederhana yang kami santap bersama terasa begitu istimewa. Bukan karena hidangannya yang mewah, tapi karena kebersamaan yang terjalin di antara kami. Obrolan kecil mulai berubah menjadi diskusi hangat, dan pada satu titik, tour leader kami mengusulkan sebuah topik: “Apa yang membuat saya bahagia dengan kehidupan ini?” Pertanyaan sederhana itu membuka pintu bagi cerita-cerita yang dalam dan personal.
Satu per satu dari kami berbicara, menceritakan hal-hal kecil maupun besar yang membawa kebahagiaan dalam hidup. Ada yang berbagi tentang pengalaman hidupnya, tentang mimpi yang perlahan terwujud, atau sekadar rasa syukur atas udara segar yang bisa dinikmati di tempat ini. Saya masih ingat betul bagaimana kata-kata kami mengalir begitu jujur, tanpa rasa canggung atau takut dihakimi. Seperti ada ikatan yang sudah bertahun-tahun lamanya menghubungkan kami, membuat percakapan itu terasa begitu hangat dan tulus.
Yang paling berkesan adalah perasaan bahwa kami, yang baru saling mengenal beberapa jam sebelumnya, tiba-tiba menjadi seperti keluarga. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan yang terasa penting. Di tempat ini, jauh dari perkotaan, tanpa sinyal untuk sibuk bermain ponsel masing-masing, kami benar-benar hadir untuk satu sama lain—sampai-sampai kami tak lagi ingat untuk mengabadikan momen berkesan itu.
Kami saling tertawa, berbagi harapan, bahkan saling mendengarkan cerita yang mungkin tak pernah diungkapkan sebelumnya. Malam di Papandayan itu akan selalu terukir dalam ingatan saya. Sebuah malam yang mengingatkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat jauh, tidak selalu harus dibalut kemewahan.
Saat Waktu Terasa Terlalu Cepat Berlari dalam Petualangan
Pukul lima subuh, alarm dari ponsel yang sudah diatur malam sebelumnya membangunkan kami dari tidur yang singkat namun penuh kehangatan. Udara dingin menusuk tulang, membuat setiap langkah menuju puncak terasa seperti perjuangan kecil. Tapi semangat melihat matahari terbit pertama dari ketinggian Gunung Papandayan memanggil kami untuk tetap melangkah.
Langit perlahan berubah warna, dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu oranye keemasan mulai menyemburat di cakrawala. Detik itu, semua rasa lelah dari perjalanan seakan terbayar lunas. Matahari muncul perlahan, seperti seorang seniman yang dengan hati-hati menorehkan kuas pada kanvas alam. Siluet beberapa puncak gunung lain berdiri gagah di kejauhan, ditemani awan-awan tipis yang bergerak perlahan. Angin sejuk menyapa lembut, memberikan harmoni pada keheningan pagi yang syahdu.
Kami berdiri di sana, menyaksikan pemandangan yang hanya bisa digambarkan sebagai magis. Beberapa dari kami memotret, berusaha mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel. Namun, kami tahu, tak ada foto yang bisa benar-benar menangkap rasa damai yang kami rasakan saat itu. Hanya mata, hati, dan pikiran kami yang bisa menyimpan memori ini dengan sempurna.
Setelah puas menikmati keindahan pagi, kami kembali ke camping ground. Langkah kaki terasa lebih lambat, bukan karena lelah, melainkan karena hati seolah enggan untuk bergegas. Kami mulai bersih-bersih dan membereskan perlengkapan. Suasana terasa hening, masing-masing dari kami seperti sedang berbicara dengan diri sendiri, merenungkan apa yang baru saja kami alami.
Ada rasa haru yang perlahan merayap. Perjalanan ini, yang hanya berlangsung dua hari, meninggalkan jejak yang begitu dalam. Kami tahu, momen seperti ini mungkin sulit diulang, dan itu membuat kami ingin menikmati setiap detiknya lebih lama. Meski akhirnya kami harus bersiap untuk menuruni gunung, hati kami seolah berkata, “Belum ingin pulang.”
Ketika saatnya untuk menuruni gunung, hati terasa penuh, menyadari bahwa kami membawa pulang lebih dari sekadar cerita. Setidaknya bagi saya, membawa pengalaman, kenangan, dan pelajaran yang akan terus hidup di dalam diri.
Dari Puncak Gunung Papandayan: Apa yang Saya Pelajari
Mendaki dan menuruni Gunung Papandayan mengingatkan saya bahwa perjalanan sejati tidak hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga tentang menemukan makna di sepanjang jalan. Setiap langkah kecil yang melelahkan mengajarkan saya untuk lebih menghargai proses dan kesabaran dalam hidup. Keberhasilan, saya sadari, tidak datang dalam sekejap, tetapi melalui perjuangan yang konsisten.
Lebih dari itu, perjalanan ini menegaskan bahwa kebahagiaan sejati datang dari hubungan yang tulus dengan sesama. Dalam kebersamaan, saya menemukan kekuatan yang lebih besar, yang jauh melampaui pencapaian pribadi. Keindahan alam Gunung Papandayan, dengan segala keajaibannya, mengajarkan saya untuk lebih peduli dan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Di atas gunung, jauh dari keramaian, saya belajar pentingnya melambat, merenung, dan menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. Kini, kembali ke rutinitas, saya membawa semua pelajaran ini dalam hati.
Aneh rasanya, perjalanan yang semula saya anggap sepele—tanpa ekspektasi dan hanya bermodal keberanian untuk berangkat sendiri—ternyata merubah segalanya. Apa yang saya kira akan menjadi pengalaman ‘biasa-biasa saja’, justru menjadi sebuah kisah luar biasa yang lebih bermakna dari yang bisa saya bayangkan sebelumnya.
Perjalanan pertama ini mungkin akan menjadi awal dari banyak pendakian lain di masa depan, tetapi momen dan maknanya akan selalu menjadi yang paling istimewa. Gunung telah mengajarkan saya untuk melihat hidup dengan cara yang berbeda: lebih penuh syukur, lebih sederhana, dan lebih menghargai setiap detik yang dimiliki. Dan saya tahu, kenangan ini akan terus menjadi kompas kecil yang membimbing saya, bahkan di saat-saat sulit sekalipun.
Tentang Penulis:

Brainly Sungkharisma adalah seorang mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi dari Binus University dan seorang pekerja profesional di bidang komunikasi dan pemasaran. Memiliki passion yang besar dalam petualangan outdoor, Brainly selalu mencari cara untuk menghubungkan pengalaman alam dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang yang aktif dalam dunia petualangan, ia percaya bahwa menjelajahi alam bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang menemukan kedamaian dan inspirasi yang mendalam. Melalui tulisan-tulisannya, Brainly berupaya untuk berbagi cerita dan wawasan yang dapat menginspirasi orang lain untuk menjelajahi dunia luar dan menjaga kelestarian alam.
Tentang Program Tulisan Eigerian:
Cerita Eigerian adalah salah satu rubrik dalam program Tulisan Eigerian. Program Tulisan Eigerian adalah program yang membuka kesempatan bagi para penulis dan petualang untuk menjadi kontributor di Blog EIGER. Kontributor dapat berbagi karya, cerita, tips, ataupun review produk EIGER. Program ini terbuka untuk umum dan memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh para kontributor. Yuk salurkan bakat dan bagikan semangat petualangan melalui tulisan-tulisan yang bermakna sekarang juga, ada reward bagi kontributor yang tulisannya ditayangkan! Cek syarat dan katentuannya untuk menjadi kontributor Blog EIGER di sini atau langsung kirim artikelmu melalui form ini.


