Eigerian ingin mulai menekuni olahraga memanjat, tetapi bingung mulai darimana? Coba mulai dengan jenis panjat tebing yang beginner friendly, yaitu top rope climbing. Ya, olahraga ini adalah sarana berlatih sebelum Eigerian menjajal sport climbing lain yang lebih menantang.
Sebenarnya, bagaimana cara melakukan top rope climbing dan apa perbedaannya dengan olahraga memanjat lain? Di artikel ini, kamu akan menemukan jawabannya. Jadi, simak hingga tuntas, ya!
Apa Itu Top Rope Climbing?

Top rope climbing adalah salah satu jenis olahraga climbing yang dilakukan dengan tali pengaman sudah terpasang pada anchor system di puncak dan terhubung dengan belayer (partner yang bertugas mengatur tali di bawah).
Jadi, pemanjat hanya perlu fokus pada pegangan dan pijakan tanpa perlu memasang baut pengaman secara manual pada medan panjat. Hal inilah yang membuat top rope climbing sangat direkomendasikan bagi pemula karena tenaga yang dikeluarkan lebih sedikit dan risiko jatuh lebih kecil.
Mekanisme Top Rope Climbing
Meskipun top rope climbing lebih minim risiko, Eigerian tetap perlu memperhatikan mekanisme khusus untuk memastikan prosesnya aman. Berikut ini gambaran mekanisme top rope climbing yang perlu dipahami:
1. Pemasangan Alat
Pertama, Eigerian harus mengikatkan salah satu ujung tali pengaman ke harness-nya menggunakan simpul berbentuk angka delapan dan diikuti simpul pengaman. Selanjutnya, belayer juga memasang perangkat belay di dekat ujung tali yang lain dan mengikatkan pada sabun pengamannya.
2. Koordinasi Instruksi
Selanjutnya, belayer dan pemanjat harus berkoordinasi untuk menyepakati perintah dan sinyal yang akan digunakan. Beberapa sinyal yang sering digunakan antara lain:
- On belay?: Pemanjat bertanya apakah belayer sudah siap.
- Belay on: Belayer menunjukkan bahwa mereka siap memulai.
- Climbing: Pemanjat memberikan isyarat bahwa mereka akan segera memulai.
- Climb on: Belayer memberikan tanda dan siap untuk mendukung pemanjatan.
3. Proses Memanjat
Ketika pemanjatan dimulai, belayer akan melakukan belaying, yaitu proses menyerap kelebihan tali melalui perangkat belay mereka. Ingat, belayer harus menguasai keterampilan ini karena keselamatan pemanjat bergantung dari ketepatan teknik yang mereka digunakan.
Maka, tak heran kalau beberapa tempat pelatihan panjat tebing mengajarkan cara belaying yang tepat, bahkan mewajibkan tes belay untuk memastikan kemampuannya cukup mumpuni dalam mendukung pemanjatan.
Nah, jika kamu telah mencapai ketinggian tertentu dan terjatuh, belayer akan menahan dari tempatnya. Gesekan dari tali yang melewati perangkat belay akan memudahkan mereka menahan beratmu.
Selanjutnya, ketika kamu sudah berada di puncak, belayer akan menurunkannya dengan membiarkan tali meluncur melalui perangkat belay secara terkendali.
Baca juga: Manfaat Wall Climbing, Olahraga Ekstrem yang Jadi Tren
Perbedaan Top Rope Climbing, Lead Climbing, dan Bouldering
Selain top rope climbing, Eigerian mungkin juga pernah mendengar jenis climbing lain, seperti lead climbing dan bouldering. Nah, berikut ini perbedaan top rope climbing, lead climbing, dan bouldering yang ditinjau dari beberapa aspek:
1. Berdasarkan Sistem Pengamanan
Top rope dijalankan dengan tali yang sudah terhubung dari pemanjat ke anchor di puncak, lalu kembali ke belayer di bawah. Adapun lead climbing mengharuskan pemanjat untuk membawa perlengkapan proteksi sendiri, lalu memasang quickdraw ke titik anchor sepanjang rute.
Sementara itu, bouldering sangat jauh berbeda dengan dua jenis sebelumnya, karena tidak melibatkan tali dan harness, melainkan hanya crash pad (matras tebal) dan spotter (orang yang mengarahkan gerakan dari bawah).
Sebagai tambahan informasi, ada pula top rope soloing, yaitu olahraga panjat yang mirip dengan top rope climbing, tetapi tidak melibatkan belayer. Jadi, sistem pengamannya hanya terdiri dari tali di atas dan perangkat pengunci otomatis (self-belay device).
2. Berdasarkan Tingkat Kesulitan
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa rock climbing top rope termasuk beginner friendly karena relatif mudah dan minim risiko. Berbeda dengan lead climbing yang lebih teknis karena pemanjat harus piawai mengelola tali dan melindungi diri.
Di sisi lain, karena pemanjat bouldering tidak menggunakan alat pengaman pada badannya, mereka harus mengandalkan kekuatan, kelincahan, dan teknik. Bahkan, cara menjatuhkan diri ke crash pad pun harus diperhatikan agar terhindar dari risiko cedera.
3. Berdasarkan Perlengkapan
Jika Eigerian ingin mencoba rock climbing top rope, alat pengaman utama yang harus disiapkan adalah harness, outdoor top rope, perangkat belay, serta memanfaatkan anchor system yang sudah terpasang di puncak.
Adapun jika Eigerian akan melakukan lead climbing, ada lebih banyak perlengkapan perlindungan yang harus diatur sendiri saat naik, meliputi harness, quickdraws, tali, carabiner, dan perangkat belay.
Nah, berbeda lagi dengan peralatan bouldering yang relatif lebih minim, karena hanya mengandalkan crash pad untuk tumpuan saat pemanjat terjatuh. Namun, perlu dipahami bahwa jenis-jenis olahraga di atas sama-sama membutuhkan climbing shoes dan chalk bag sebagai perlengkapan pribadi pemanjat.
Rekomendasi Climbing Gear dari EIGER Adventure
Berbicara mengenai olahraga climbing, EIGER juga aktif mendukung dan mengapresiasi bakat para pemanjat di Indonesia, lho. Salah satu buktinya adalah dengan rutin menyelenggarakan EISCC (EIGER Independence Sport Climbing Competition).
EISCC rutin diadakan tiap tahun dan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kompetisi ini menjadi ajang pembuktian mental, teknik, dan dedikasi para pemanjat tebing. Pemenang EISCC tahun 2025 akan meraih total hadiah 150 juta rupiah.
Selanjutnya, kalau Eigerian ingin melengkapi climbing gear agar petualangan lebih aman, berikut ini sejumlah rekomendasi produk berkualitas tinggi dari EIGER Adventure:
1. Womens Hike Stalwart Jogger

Womens Hike Stalwart Jogger akan membuatmu tetap nyaman meski bertualang saat hujan ringan. Sebab, celana ini dilengkapi dengan teknologi Tropic Repellent yang bisa melindungimu dari cipratan air. Bagian lututnya pun dirancang dengan articulated kness sehingga mendukung gerakan yang lebih leluasa.
2. Lifeguard

Lifeguard adalah perangkat belay dari EIGER yang compact dan ringan. Alat ini terbuat dari aluminium aircraft grade dan stainless steel yang menunjang daya tahan optimal. Lifeguard memiliki diameter 8,9–11 mm sehingga cocok untuk top rope maupun lead climbing.
3. Colt Wire Straight Car Carabin

Carabiner Colt Wire Straight Car Carabin ini bagian gate-nya terbuat dari kawat baja tipis sehingga kuat, tetapi ringan. Kekuatannya pun terjamin karena carabiner ini telah melalui uji kekuatan dengan beban 10 kN (~1.000 kg).
4. Rock Warriors

Rock Warriors adalah kaos climbing pria yang terbuat dari bahan poliester yang lembut, ringan, dan menyerap keringat. Potongan regulernya mendukung kebebasan bergerak dan sablon grafis di bagian punggung menunjang kesan sporty.
5. Motion Chalk Bag 1.0

Motion Chalk Bag 1.0 cocok untuk menemani top rope climbing karena terdapat tali penutup yang dapat diatur sehingga memudahkanmu mengakses tas di ketinggian. Kamu bisa menggunakan chalk bag ini dengan cara mengikatkan talinya di bagian pinggang atau menyilangkannya di pundak.
Eigerian juga bisa memperoleh climbing gear berkualitas lainnya di EIGER Adventure, mulai dari peralatan keamanan hingga outfit yang sporty dan stylish. Kunjungi EIGER Adventure Store di kotamu dan dapatkan pengalaman berbelanja langsung yang seru. Dengan mencoba produk secara langsung, kamu bisa memastikannya sesuai dengan kenyamananmu.
Namun, Eigerian juga bisa berbelanja praktis melalui situs resmi EIGER atau aplikasi resmi EIGER yang bisa diunduh di App Store dan Play Store. Cukup pilih produk incaranmu, manfaatkan promo spesialnya, dan tunggu produknya dikirim ke rumah. Yuk, segera belanja di EIGER!
Baca juga: 6 Outdoor Gear yang Perlu Kamu Bawa Saat Berkegiatan di Alam


