Gerakan Zero Waste Mountain bukan hanya sekadar tren semata, tapi menjadi langkah penting untuk kelestarian alam. Di Sulawesi Selatan, terdapat satu gunung yang berhasil menerapkan prinsip ini secara nyata, yakni Gunung Bulu’ Baria.
Terletak di Desa Manimbahoi, Kabupaten Gowa, gunung ini tak hanya menyuguhkan panorama yang indah, tetapi juga menyandang status sebagai gunung terbersih di Sulawesi.
Bulu’ Baria menjadi contoh nyata bagaimana komunitas lokal, pengelola, dan pelaku industri outdoor bisa bekerja sama menjaga kebersihan dan kelestarian alam.
Mengenal Bulu’ Baria: Surga Pendaki di Sulawesi

Bulu’ Baria memiliki ketinggian 2.730 mdpl dan masuk dalam kawasan pegunungan Lompobattang. Dalam bahasa Bugis, Bulu’ berarti gunung, dan Baria berarti “berubah warna”.
Nama tersebut merujuk pada fenomena unik yang terjadi saat matahari terbenam, menunjukan penampakan langit di puncak Bulu’ Baria yang bisa berubah warna setiap bulannya.
Selain karena pesona alamnya yang indah, gunung ini juga berhasil menerapkan konsep Zero Waste dengan ketat dan konsisten.
Baca Juga: Zero Waste Mountain: Bukti EIGER Peduli Lingkungan Bukan Sekadar Janji
Bagaimana Konsep Zero Waste Mountain di Bulu’ Baria?
Kesuksesan Gunung Bulu’ Baria sebagai gunung terbersih di Sulawesi tidak terjadi begitu saja. Di balik reputasi tersebut, ada sistem pengelolaan sampah yang ketat, terukur, dan dijalankan secara konsisten oleh pengelola dan masyarakat setempat.
Berikut adalah tiga pilar utama yang membuat konsep Zero Waste di gunung ini benar-benar berjalan.
1. Sistem registrasi dan pemeriksaan sampah
Setiap pendaki yang akan naik ke Bulu’ Baria wajib mengikuti proses registrasi. Dalam proses ini, semua logistik yang dibawa akan didata, terutama barang-barang yang berpotensi menjadi sampah.
Pendaki juga diminta untuk memindahkan isi kemasan ke wadah khusus agar mudah dibawa turun kembali.
2. Sampah harus turun, jika tidak akan kena denda
Semua sampah pendaki wajib untuk dibawa turun. Jika saat turun ditemukan ada sampah yang tidak sesuai catatan saat naik, maka pendaki akan dikenakan denda. Hal ini mendorong pendaki lebih bertanggung jawab atas apa yang mereka bawa.
3. Penutupan jalur untuk rehabilitasi alam
Setiap awal tahun di bulan Januari hingga Maret, jalur pendakian Bulu’ Baria akan ditutup untuk pemulihan ekosistem. Selama masa ini, pengelola akan melakukan pembersihan, perbaikan jalur, dan pengecekan kondisi alam.
Peran Masyarakat dan Kolaborasi dengan EIGER

Keberhasilan Zero Waste di Gunung Bulu’ Baria tidak terlepas dari peran aktif warga Desa Manimbahoi. Mereka berinisiatif membentuk tim pengelola jalur pendakian yang melibatkan tokoh adat, pemuda desa, dan aparat lokal.
Melihat semangat dan keseriusan ini, EIGER mendukung penuh dengan mengadopsi Bulu’ Baria sebagai bagian dari program Wali Gunung. Kolaborasi ini mencakup edukasi, penyediaan perlengkapan, hingga alat komunikasi dan pertolongan pertama.
EIGER resmi menjadi Wali Gunung Bulu’ Baria sebagai bagian dari komitmennya menjaga kebersihan dan kelestarian alam di Sulawesi seperti halnya yang sudah dilakukan di Gunung Kembang. Hal ini juga sejalan dengan nilai utama EIGER selama lebih dari 35 tahun yakni inovasi, alam, dan manusia.
Kolaborasi ini mendukung penuh upaya warga Desa Manimbahoi dan pengelola pos registrasi dalam memastikan setiap pendaki bertanggung jawab atas perbekalan dan sampahnya, sejak kaki melangkah hingga mencapai puncak.
Aturan tertulis yang menjaga gunung ini tetap bersih dan bebas sampah dimulai dari pos registrasi. Dari Dusun Pattiro, Desa Manimbahoi setiap pendaki yang hendak memulai langkah pertamanya menuju puncak.
Dilakukan pemeriksaan perbekalan, peralatan keamanan juga memindahkan perbekalannya ke dalam wadah yang telah disiapkan oleh pengelola.
Zero Waste Mountain Bukan Sekadar Aturan, Tapi Budaya
Gerakan Zero Waste di gunung seharusnya tidak berhenti pada himbauan atau sanksi. Ia harus tumbuh menjadi budaya kolektif yang terbentuk melalui edukasi yang konsisten, pembiasaan dalam tindakan, serta rasa memiliki terhadap alam yang kuat.
Ini bukan hanya soal membuang sampah pada tempatnya, tapi tentang membentuk karakter pendaki yang bertanggung jawab sejak sebelum mendaki hingga kembali pulang.
• Edukasi yang konsisten
Setiap pendaki perlu diberikan pemahaman tentang etika pendakian dan pentingnya membawa turun sampah sendiri. Pendekatan edukatif seperti ini menciptakan perubahan pola pikir yang lebih mendalam dan berkelanjutan, lebih efektif dibanding hanya mengandalkan sanksi.
• Dari skeptis jadi bangga
Awalnya, banyak pendaki menganggap aturan Zero Waste terlalu membatasi. Namun, setelah mereka merasakan sendiri pengalaman mendaki di jalur yang bersih dan teratur, persepsi tersebut berubah.
Banyak orang yang kini menyebut Bulu’ Baria sebagai salah satu gunung yang enak didaki karena bersih. Rasa bangga muncul dari pengalaman yang menyenangkan dan aman.
• Apa yang bisa kita pelajari?
Bulu’ Baria membuktikan bahwa menerapkan prinsip Zero Waste di gunung bukan hal yang mustahil. Justru sebaliknya, hal ini bisa menjadi standar baru dalam aktivitas pendakian jika semua pihak terlibat. Kunci dari kolaborasi tersebut adalah:
- Komitmen dari pengelola dan masyarakat lokal
- Dukungan dari para pelaku atau industri outdoor
- Kesadaran dan tanggung jawab dari para pendaki
Dengan sinergi tersebut, gunung-gunung di Indonesia bisa menjadi lebih bersih, lebih lestari, dan lebih aman untuk dinikmati oleh generasi mendatang.
Baca Juga: 4 Manfaat Penerapan Zero Waste Traveling, Apa Saja Ya?
Mari Jadi Bagian dari Gerakan Zero Waste
Sebagai pendaki, Eigerian mempunyai peran penting dalam menjaga gunung tetap bersih. Mulailah dari hal sederhana seperti membawa turun sampah, patuhi aturan, dan hormati alam. Karena gunung bukan tempat sampah, gunung adalah ruang hidup yang harus kita jaga bersama.
Program Zero Waste Mountain diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa gunung bukan sekadar tempat rekreasi atau bertualang, tapi juga rumah bagi ekosistem yang harus dijaga.
Ini bukan hanya komitmen masa lalu, tetapi perjalanan berkelanjutan untuk mewariskan gunung-gunung Indonesia yang bersih dan lestari bagi generasi mendatang. Diharapkan, Gunung Kembang dan Bulu’ Baria menjadi contoh nyata bahwa sistem pendakian yang bersih, aman, dan berdaya bisa diterapkan di gunung-gunung lainnya.


